Blog

Resensi Film Backstabbing for Beginner

Resensi Film Backstabbing for Beginner
Judul Film : Backstabbing for Beginner
Sutradara : Per Fly
Produksi : 2018
Durasi : 108 menit
Actor : Theo James, Ben Kingsley, Jacqueline  Bisset

“Aturan pertama diplomasi, adalah: ‘Kebenaran bukan masalah fakta. Tetapi konsensus. ‘”
Pelajaran bagi siapapun yang ingin meniti karir sebagai diplomat. Barangkali bukan hati nurani yang dibutuhkan, bukan idealisme, namun konsensus itulah yang wajib dibela oleh seorang diplomat. Tidak siap menjadi pemain? Lupakan cita-cita menjadi diplomat.

Kalimat pembuka diatas diucapkan oleh seorang tokoh bernama Pasha dalam film Backstabbing for Beginner, dimainkan dengan cemerlang oleh Ben Kengsley yang wajahnya cukup kita kenal lewat film Gandi. Film ini diangkat dari kisah nyata seorang diplomat muda PBB, Michael Sullivan.

Salah satu kekhawatiran dari sebuah film yang mengangkat kisah nyata, tentu persoalan figur dan karakter pemain, lebih-lebih emosi. Dalam film ini, Theo James bermain flat dari awal hingga akhir. Kurang greget, emosinya tidak lahir dengan kental hingga bisa membuat penonton cemas, takut atau sedih. Bagaimana ia bercita-cita melakukan perubahan dalam unit kerjanya, namun heroisme Sullivan tidak maksimal diekspresikan.

Sebagaimana film Eropa, kita terbiasa disuguhi alur yang lambat dan naratif. Bersiaplah cemilan waktu nonton. Sebagai film thriller, film ini juga kurang menegangkan. Orchestra yang dimainkan oleh The Filmharmonic Orchestra Prague tidak cukup mengangkat suasana, padahal music seharusnya mampu menciptakan kemegahan. Sayang sekali. Harus kita akui bahwa kemasan film Hollywodd selalu lebih oke dalam urusan sound dan musik.

Namun, sebagai sebuah film politik, saya ( atau mungkin Anda) akan mendapat gambaran dengan jelas tentang bagaimana sebenarnya Amerika serikat yang rakus, PBB yang korup, dan pemimpin Negara yang berebut kue minyak di Iraq. Dunia sudah demikian kotor, perang diciptakan sekedar untuk tujuan bisnis, kemanusian menjadi hal yang hanya lahir dalam proposal pendanaan.

Sullivan dalam kisah ini berusaha mengabarkan kepada dunia, melalui media masa Bahwa Oil for Food adalah program gagal PBB yang hanya melahirkan konspirasi korup antara Saddam dan banyak Negara, bahkan termasuk USA dan PBB. Bahwa alasan USA menyerbu Iraq dengan tuduhan Saddam Husein menyimpan senjata kimia adalah bohong belaka. Semua itu adalah cara agar mereka mendapatkan minyak. Saya rasa Anda yang gemar membaca tahu, bahwa Iraq bukan satu-satunya korban kerakusan USA bersama kroni-kroninya.

Kelemahan lain dari Backstabbing for Beginner adalah, terlalu focus pada tokoh Sullivam, hingga lupa menggambarkan konflik internal Iraq, perang local dan regional, sampai perang dunia yang ada disana. Konflik Iraq memang tidak akan selesai hanya ditampilkan dalam waktu 108 menit. Tetai setidaknya, Sudut pandang Sullivan bisa dikerjakan dalam film tempo cepat semacam Bourne serial, film yang membuat kita melek dari awal sampai akhir. (WB)