Blog

‘Ganjaran’ Cinta Wina Bojonegoro*

‘Ganjaran’ Cinta Wina Bojonegoro*

Tak pernah saya melihat Wina Bojonegoro seperti Selasa (2 Oktober) malam. Ia semacam demam panggung. Melangkah pelan ke depan di Studio UBTV, ia grogi. Saat diminta berbicara, ia sempat terdiam. Maklum ia mewek sebentar. Memulai kata pun belepotan seperti ia bukan ahlinya berkata-kata saja. Badannya tak berdiri teguh, bergerak-gerak mencari posisi dengan sedikit kebingungan. Sambutannya keluar tak lancar, tak berstruktur. ‘Kacau’ lah, menurut saya yang mengenalnya dengan berbagai sebutan. Pokoknya sebagai dewi panggung, perempuan Leo itu tak tampil seperti ‘singa perempuan’ biasanya.

Tapi saya maklum sekali. Sangat. Saya juga maafkan kali ini ia tidak ‘beres’ di atas panggung Anugerah Sabda Budaya Brawijaya, Gedung Rektorat Universitas Brawijaya (UB) lantai 2, Malang. Untuk momen malam itu, Wina pantas merasa seperti itu. Sebab itu bukan show yang harus dikemas menarik untuk penonton hingga Wina harus tampil sempurna sesuai skenario. Pasti bedalah saat ia pernah dinobatkan sebagai Aktris Terbaik Lomba Drama Lima Kota pada 1988. Malam itu, bukan Wina yang membuat panggung itu ada untuknya sendiri, melainkan ia tamu di panggung ‘besar’ yang justru disiapkan orang lain untuknya. Wajar ia terkaget-kaget. Feel amazing.

Apalagi ini sejarah yang ditoreh seorang perempuan macam Wina selama bergulat dengan sastra. Seperti aktris, ia bagai menerima ‘Piala Citra’ dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB. Kategorinya pantas diterimakan karena sesuai dengan dunia yang digelutinya: sastra! Selain Wina, hanya ada satu seniman lagi yang menerima penghargaan itu yaitu alm Ki Sumantri, untuk kategori seni tradisi. Hebatnya, penganugerahan ini pertama kalinya diberikan kepada sastrawan dan seniman tradisi di Jawa Timur. Untuk memperingati Dies Natalis FIB UB ke-9, forum ini pun menjadi sangat menyejarah bagi seniman bidang sastra Jawa Timur.

Di tengah penghargaan pada karya sastra yang minim, Wina malam itu sesuai harapan saya: tidak mempresentasikan dirinya seorangan. Ia mewakili kebungahan para pelaku sastra lain di Jatim yang membutuhkan ‘perhatian’ atas karyanya. Seperti yang disinggung Wina di panggung, seniman sastra mungkin pernah ‘iri’ pada hasil karya seni lain misalnya seni rupa yang bisa memberikan harga ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk sebuah karya lukis. “Ada lho cerpen di koran yang dihargai Rp 100 ribu tetapi peminat penulis cerpen setiap tahunnya tak pernah surut tuh. Itulah hebatnya kita. Teruslah berkarya,” kata perempuan asli Bojonegoro itu.

Memang, penghargaan pada karya lebih dari segala-galanya bagi seniman. Soal apakah karya membuat senimannya kaya atau miskin, itu tak ada hubungan dengan pilihan kesenimanan seseorang. Cinta ya cinta saja lah. Dengan sebuah piala berdasar hitam dengan liukan resin bening bertuliskan nama anugerah yang dibopongnya di tangan, wajar jika Wina malam itu dadanya bergetar, tenggorokannya tercekat, mulutnya setengah terkunci. Ia gagap di atas panggung yang tak diharapkannya ada. “Ini sesuatu yang lebih dari yang saya sangka. Sungguh ini tamparan buat saya,” ujar Wina yang baru saja bergelar Hajjah.

Betul kata Wina. Hanya di bagian kalimat inilah sambutan Wina yang ‘kacau’ itu bisa terselamatkan. Saya suka. Menurut saya penghargaan adalah ‘tamparan’ bagi yang menerima dan yang tidak menerima. Bagi seniman, penghargaan bukan hal final atau sesuatu yang dikejar. Namun ketika seorang seniman dihargai karyanya dengan cara terjual harga tinggi atau menerima anugerah seperti Wina malam itu, maka sebuah penghargaan sesungguhnya ‘bumerang’ untuk orang tersebut. Tentu saja, boomerang positif karena ibarat lecutan balik untuk berkarya lebih baik. Jika dengan penghargaan ia merasa besar lalu berhenti berkarya, habislah ia.

Maka Wina lalu berjanji agar hadirin (termasuk saya rela berangkat dari Surabaya) yang menyaksikannya di panggung malam itu untuk mengingatkan jika ia tak lagi produktif berkarya. Ia lalu pamer kalau ia tengah menggarap dua cerpen sekaligus yang dalam proses editing ketat. “Selama 2018 ini saya sedih karena tak satu pun cerpen saya muat di surat kabar, tapi ada dua novel yang siap terbit. Satunya dalam proses editing oleh editor ahli dengan riset serius sehingga lama selesai. Tapi itulah yang menjamin buku saya ini bakal keluar dengan tidak sampai malu-maluin penulis. Riset adalah bagian penting buat saya saya menulis,” ujar ibu tiga anak ini.

Menurut Yusri Fajar, ketua panitia-dosen FIB-sastrawan Jatim-, Wina terpilih karena keseriusannya dalam bersastra. Memang jangan tanyakan Wina dalam hal itu. Cintanya pada sastra lah yang membuat ia pantas disebut sastrawan. Ia sejajar seperti tiga sastrawan yaitu Prof Budi Darma, Oka Rusmini dan Nanang Suryadi yang menyampaikan ucapan selamat di dalam video profil Wina yang ditayangkan. Seperti ketiganya, sastralah yang membuat Wina terus bahagia. Sastralah yang membuat ia tetap ‘bergerak’ meski usia terus bertambah. Menjadi nenek tiga cucu memang tak menyurutkan nyali Wina dalam menulis. Ia bilang: “tetaplah bergerak, walau pun langkah kecil, sebab jika engkau diam, maka matilah engkau.”

Nyatanya Wina berhasil membuat hidupnya ‘tak mati-mati’. Mantan pegawai Telkom itu telah melahirkan 12 buku baik personal maupun antologi. Tiga buku di antaranya, mengikutkan saya dan dia bersama-sama sebagai penulisnya. Selama mencintai dunianya, saya lihat Wina bukan seniman egois. Salah satu pendiri Komunitas Susastra Nusantara (KSN) ini bahkan pernah rela merugi banyak saat mendirikan Kedai Kreasi agar sastra lebih mendapat tempat. Berbagai acara sastra sudah tergelar di sana dalam skala nasional meski dengan bajet minim dan urunan dengan sahabatnya Sol Amrida. Berkali-kali ia mau susah payah membuat event sastra di berbagai kota.

Minimal di setiap peluncuran bukunya, sudah pasti Wina membuat acara berbau sastra. Saya pernah dilibatkan oleh perempuan yang saya panggil Mamih ini untuk merancang dua agenda sastra yaitu “Satus Wong Suroboyo Nulis Cerpen” dan “Sketsastra”, yang saya kerjasamakan dengan Pemkot Surabaya. Saat begitu, Wina pasti ajak-ajak berbagai kalangan. Prinsip KSN: tak perlu pintar bersastra semua dulu, baru boleh terlibat sastra tapi yang cuma susastra (pecinta sastra) sangat boleh. Saya saja pernah dinaikkan panggung olehnya sebagai pembaca puisi, cerpen, moderator, nara sumber sampai bermain monolog. Terakhir, Wina membuat event Festival Literasi yang digagasnya jadi tahunan di Surabaya yang bisa mendorong sastra tetap hidup.

Untung dua tahun lalu ia menikahi seniman sahabat saya Yoes Wibowo sehingga Wina punya teman ‘gila’. Jadi meski berada jauh dari Surabaya karena sejak 2017 berdiam di Omah Padma, -rumah budaya dan edukasi di Semambung, Purwodadi, Pasuruan- Wina tak bakal berhenti menulis. Di Omah Padma yang merangkap sebagai studio dan galeri lukisan, Wina sedang menuntaskan tetralogi “The Souls” yang baru lahir dua episode pada 2019. Tentu saja sambil terus mengembangkan bisnisnya: Padmagz.com yang saya kelola, Padma Tour Organizer dan Padmedia yang melahirkan buku-buku sastra. Terakhir ia melaunching buku Aryani Widagdo, fashion educationist.

Satu lagi kelahiran buku serial “Hidup Ini Indah, Beib” ketiga yang dirancangnya bersama saya dan Didi Cahya. Baginya, sastra harus bisa dilakoni siapa saja. Terbukti dalam buku berjudul “Aku Memilih Bahagia”, kami bertiga mengumpulkan para 22 single fighter women yang di antaranya tak bisa menulis untuk ikut dalam antologi esai itu. “Kalau sastrawan hanya berkutat membesarkan namanya sendiri, kapan orang lain akan cinta pada karyanya kalau tidak dilibatkan,” katanya, berdalih. Malam itu, mungkin bukan buah terakhir dari kecintaan Wina pada sastra. Rekam jejak Wina dalam dunia literasi yang dimulai pada 1988 itu, menjadi bukti bahwa tak ada cinta yang sia-sia. Semua pasti ada ganjarannya. Terlebih pada rasa cinta. Lebih-lebih cinta pada sastra.

Momen malam itu membuktikan lagi bahwa mencintai sastra itu memang jalan sunyi. Bukan saja ketika berkarya namun ketika tak ada seorang pun yang menghargai, sang seniman harus terus bertahan mencintai pilihannya. Bagi Wina setiap perjalanan ada harga yang harus ditebus, sebuah sekolah pendewasaan diri. Usai turun dari panggung, Wina baru terlihat ‘normal’. Terlupa berterima kasih karena banyak orang di kepalanya yang telah berjasa, Wina pun melihat piala dan piagam penghargaannya dengan mata berair. “Penghargaan ini saya persembahkan bagi yang memilih jalan sunyi di dunia sastra dan untuk yang mungkin tak pernah melihat kesungguhan saya di dunia sastra,” katanya.

Kali ini ia tak deg-degan lagi, Entahlah, apa penamaan yang tepat untuk kejadian malam itu, Wina bahagia. Tetapi ia selalu seperti kala saya tahu ketika meluncurkan buku. Ia bagai ibu yang penuh cinta usai melahirkan: dilihatnya buku seolah jabang bayi merah di pelukannya. Itu ganjaran setimpal atas susah payah telah mengandungnya di rahim berbulan-bulan. Bagi Wina kelahiran buku adalah sesuatu yang dahsyat selama ia bercinta dengan sastra. Kali ini lain, jabang bayinya berupa anugerah (piala, piagam dan uang). Dahsyat lagi itu. Ya malam itu, kamu DAHSYAT Mamih! Selamat.

*catatan Heti Palestina Yunani untuk penghargaan Anugerah Sabda Budaya Brawijaya yang diterima Wina Bojonegoro