Sebagai penulis yang sudah menggeluti dunianya selama 28 tahun, Wina Bojonegoro tak bisa membedakan lebih asyik sebagai penulis cerita pendek (cerpen) atau novel. Sebab, bagi wanita kelahiran Bojonegoro ini, keduanya sama-sama membuatnya nyaman.

Pemilik nama asli Endang Winarti ini tetap menikmati saat menulis cerpen maupun ketika mendapat gagasan untuk membuat novel.

Meski begitu, wanita yang sudah membuat ratusan karya ini mengaku masing-masing punya spesifikasi yang perlu dihadapi dengan baik sehingga ide yang muncul bisa tuntas menjadi sebuah karya, baik cerpen maupun novel.

โ€œIbarat olahraga lari, bikin cerpen itu jenis lari sprint, cara bertuturnya taktis,โ€ papar Wina. Sedang novel dia ibaratkan lari maraton, sehingga perlu napas panjang untuk menyelesaikan ide yang timbul.

โ€œSaat akan bikin novel harus punya strategi supaya bisa memapar gagasan yang muncul secara detail, rinci,โ€ ungkapnya.

Ketika di kepalanya muncul gagasan, Wina sudah tahu bakal dibuat sebuah novel atau hanya cerita pendek (cerpen). Jika ide itu bakal digarap jadi cerpen, wanita yang juga mengelola sebuah agen perjalanan ini hanya butuh waktu sehari untuk menuntaskannya.

โ€œTapi, tak selalu sempurna. Bisa jadi masih perlu revisi-revisi, dan itu bisa dilakukan sambil jalan,โ€ beber Wina yang baru merilis buku bertajuk Mozaik Kota Kenangan.

Sedang menggarap sebuah novel, lanjutnya, bisa sampai berbulan-bulan bahkkan hitungan tahun.

โ€œRepotnya ketika saya tergoda cerita lain. Mood untuk menggarap cerita awal bisa luruh dan beralih ke cerita yang baru,โ€ cetusnya.

Dia lalu menyebut novel berjudul The Soul yang meski sudah dikerjakan selama tiga tahun tak juga kunjung selesai.

โ€œKarena mood memang tak bisa dipaksakan. Perlu waktu khusus untuk mengembalikan ke semangat awal,โ€ urainya.

sumber : surabaya.tribunnews.com

Posted by:Wina Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *