Tepat di usianya yang ke-52 pada 10 Agustus 2016, novelis Wina Bojonegoro menggelar selamatan. Kendurinya ia wujudkan dengan meluncurkan bukunya yang ke-9, ‘Mozaik Kota Kenangan’ (MKK). Ditemani banyak teman-temannya di dunia seni khususnya sastra, Wina membuat acara ulang tahunnya itu dengan sebuah seni pertunjukan.

Ada banyak rupa-rupa atraksi yang ditampilkan di antaranya yang utama adalah pameran seni rupa karya BG Fabiola Natasha, ilustrator buku MKK. Karya-karya untuk Wina tergolong istimewa. Perupa Surabaya yang dosen LaSalle College itu memamerkan 17 ilustrasi yang ia buat dalam media china ink.

Kebebasan Fabiola dalam menerjemahkan cerpen Wina justru tak hanya sekadar pendukung melainkan menjadi karya tersendiri yang layak dinikmati. Bagi Wina, ilustrasi-ilustrasi itu juga menjadi kadonya di ultahnya dan juga peluncuran MKK. “Ini bukan kolaborasi tapi MKK bisa juga dianggap karya kita berdua,” kata Wina, dalam jumpa pers di Auditoriun IFI Surabaya, Rabu (10/8/2016).

Dipandu Vika Wisnu sebagai MC, panggung MKK menjadi cara Wina menyuguhkan penerjemahan 17 cerpen yang ada bersama sahabat-sahabatnya di Komunitas Susastra Nusantara. Seperti poet musicians Fileski sebagai pembuka dengan musikalisasi cerpen. Lalu musik cerpen juga ditampilkan Vembriona Edy musisi anggota Best Friend Project yang menggarap lagu terinspirasi dari salah satu cerpen MKK berjudul ‘Pulang’.

IMG-20160810-WA005Lalu prosesi peluncuran dimeriahkan penari jebolan ISI Yogyakarta putri pertama alm Tedja Suminar, Swandayani yang berduet tari topeng bersama putri sketser Yoes Wibowo, Sekar Kinasih. Keduanya sedikit mengambil adegan di cerpen ‘Negeri Atas Angin’.

Lalu pembacaan cerpen berjudul ‘Perempuan yang Menikahi Kura-kura’ oleh Heti Palestina Yunani dan Sol Amrida. Puncaknya, ada performance art berjudul Luka, Cinta dan Tawa oleh visual artist Surabaya, Syska La Veggie feat Galuh Tulus Utama yang terinspirasi dari cerpen ‘Kota Kenangan’.

Buat Wina, MKK menjadi penanda 28 tahun perjalanannya menulisnya. Setiap melahirkan buku baru, Wina menyebutnya sebaga melahirkan jabang bayi yang melalui proses luar biasa layaknya ibu yang mengandung anaknya. Ada tahapan mencari benih yang unggul seperti mencari ide terbaik untuk ditulis.

Berikutnya mengeramya dalam janin seperti menuliskannya dengan mencurahkan semua pengetahuannya dalam sastra. ”Makanya saat buku lahir, rasanya lega seperti punya anak lagi,” kata ibu tiga anak ini.

MKK bagi Wina juga menjadi caranya untuk menjaga kewarasannya secara inteletual, psikis bahkan fisik. Ada ‘olahraga-olahraga’ jiwa yang belum pernah ia temui kenikmatannya di mana pun selain menulis. Dengan menulis ia juga bisa berinteraksi dengan banyak orang.

mkk1Termasuk menemukan guru-guru yang baik di bidangnya, di antaranya Prof Budi Darma. “Karena itu yang paling membahagiakan saya ya kehadiran Prof Budi Darma. Beliau guru saya dalam menulis. Karena itu buku saya ini resmi saya luncurkan dengan menyerahkannya pada beliau dan pihak IFI,” tegas nenek dua cucu ini.

Buku MKK yang sudah didiskusikan di hadapan publik sastra di Semarang itu adalah sebuah kompilasi cerita pendek. Beberapa pernah ditayangkan berbagai media cetak tanah air antara 2005 hingga 2015. MKK yang diditori Aulia Muhammad itu, juga diimbuhi beberapa cerita baru yang belum pernah dipublikasikan di manapun.

“Sekali lagi, bersastra adalah cara saya untuk tetap bertahan hidup, dalam usia yang tidak muda lagi. Aktivitas menulis yang tak bisa saya bendung, di antaranya terlahir dengan MKK ini,” kata CEO Padma Tour Organizer itu. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: BG Fabiola Natasha/Heti Palestina Yunani)

sumber : padmagz.com

Posted by:Wina Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *