Awalnya sungguh manis. Sangat memacu adrenalin.

”Tunggu aku di pojok es krim seperti biasa, jam makan siang.” Tetapi pesan singkat melalui ponsel itu terlalu pagi, pada jam di mana biasanya ia masih berbasa-basi dengan istrinya. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang yang sedang kasmaran selain menyambutnya dengan suka cita? Kebodohan atau naluri? Sama-sama tak mengenal batas. Manusia sering melupakan sebuah fakta bahwa hal-hal natural itu terkadang identik dengan kedunguan. Andai saja pada saat yang bersamaan akal sehat mampu berperan, memberi secercah cahaya di antara gelap gulitanya siang yang benderang.

Dengan lancangnya jari jemariku memencet huruf-huruf pada ponsel: ”Ok. Tak bisa menunggu lebih lama. Pesonamu terlalu cemerlang untuk kuabaikan.”

Sengaja kalimat binal itu kukirimkan, lelaki normal sepertinya pasti membutuhkan sesuatu untuk menariknya dari rutinitas yang membosankan. Percayalah! Tak ada satu pun lelaki yang tak menetes air liurnya ketika ada seorang perempuan, apalagi pacar gelap, menantangnya dengan gaya superbinal menggoda.

Keyakinan itu membuatku berjalan menyusuri trotoar di antara pohon-pohon angsana di mana kami sering melewatkan beberapa jenak dengan menikmati es potong atau es puter yang dijajakan tukang es dorong yang mangkal di sepanjang jalan itu. Romansa kami sungguh sangat sederhana. Menikmati jadah bakar dan wedang ronde di Alun-alun Jogja merupakan sebuah kemewahan, meskipun dia mampu membayar makan malam romantis di sebuah hotel bintang lima. Tetapi kami membuat semacam kesepakatan bahwa kindahan tidaklah berbanding lurus dengan kemewahan. Justru dalam hal-hal sederhana kami merajut keakraban dan menciptakan keintiman yang dalam. Beberapa orang di sekitarku mengatakan betapa bodohnya aku, meletakkan hati pada sebuah hubungan gelap tanpa mendapat imbalan setimpal. Apa peduliku? Ketika aku merasakan betapa indahnya hubungan kasih dua orang dewasa yang saling melengkapi, maka itulah klimaks sebuah ikatan cinta.

Pelayan menyambutku seperti biasa, mengerling dengan penuh arti pada sebuah sudut di mana kami biasanya menghamburkan tatapan mesra. Dia tak ada di situ, seperti biasa aku selalu mendahului. Aku orang yang efisien. Jika segala sesuatu bisa dimulai lebih awal maka haram hukumnya menjadikannya lebih lambat. Ketika semangkuk es krim vanilla telah menunggu dengan manis di atas meja, tiba-tiba mataku terpikat pada sebuah penampilan yang rasanya pernah mampir di kelopak mataku. Rambut ikal ala polwan, berat badan 67 berwarna kuning langsat itu ada di dompetnya, laptop-nya, juga di meja kerjanya.

Rasanya memang aku belum terlalu pikun untuk mengenali sosok nyata dari sebuah gambar. Memang dia. Dan dia berjalan ke arahku, dengan pandangan yang susah dijelaskan. Tanpa permisi ia menarik kursi di depanku lalu duduk dengan wajah menyimpan senyum kemenangan. Jantungku memang berdebar, tetapi perjalanan hidup yang lama telah mengajariku banyak hal, salah satunya bagaimana memainkan peran dalam sebuah adegan drama di panggung, atau membangun sebuah suasana bagi sekelompok orang yang tak punya tujuan hidup, lalu membayar beberapa ratus ribu dalam sebuah kelas yang diberi label: motivasi. Yes baby…sekarang saatnya bermain.

”Sayalah yang mengirim SMS tadi pagi.” Kami beradu pandang. Aku tersenyum sopan.

”Kenalkan, saya Dhanty…” Ia mengulurkan tangan, dan aku sambut dengan mantap layaknya calon klien yang akan menggunakan jasaku sebagai konsultan. Aku berdiri dari kursi, seperti adegan perkenalan profesional, tapi yang sebenarnya aku ingin mengukur tinggi tubuhnya, yang ternyata aku masih lebih tinggi dari dia. He he, tentu saja karena high heel yang kukenakan. Menurut telaah psikologi yang kupelajari, tinggi badan seseorang turut berperan dalam menentukan tinggi rendahnya kepercayaan diri.

”Saya Winda…”

”Saya tahu.”

”Terima kasih. Pesan sesuatu?”

Ia tak menjawab pertanyaanku, tetapi menjentikkan jemarinya ke arah seorang pelayan. Wow! Gayanya sungguh boleh, begitu anggun dia melakukannya. Aristokrat sejati, kentara dari cara dia mengangkat dagu dan memandang orang-orang di sekitarnya. Kulitnya kuning langsat dan mulus, ciri khas aristokrat yang melarang anak-anaknya terpanggang matahari atau lasak, sehingga coreng-moreng seperti kulitku yang cokelat petang.

Seorang pelayan menghampiri, nyonya itu memesan sesuatu dan aku pun mulai menikmati pesananku, dengan sedikit tanda-tanya, kira-kira pertanyaan apa yang akan telontar pertama kali. Ini bukan sekadar perang, psywar antara dua wanita dengan topik seorang lelaki.

”Saya tahu suami saya terpikat pada Anda.” Suaranya datar, aku sedang mencari-cari di mana letak kelemahannya.

”Dan Anda bukan perempuan pertama dalam riwayat perselingkuhannya.” Aku tahu, dia sudah menceritakan semuanya. Bahkan aku yakin ada beberapa nama yang tak mungkin diketahui oleh sang istri. Laki-laki tak akan menceritakan seluruh rahasianya pada istri resminya, kalau tak ingin bencana menimpanya. Tetapi terhadap perempuan simpanan, dia akan lebih terbuka, karena tak ada beban apa pun. Tak ada ketakukan dan kecemasan kehilangan sesuatu. Justru keterbukaan pada pasangan gelap akan menunjukkan sikap kesatria. Dan, perempuan-perempuan bodoh sepertiku, meskipun mengenyam pendidikan tinggi, tetap saja terpedaya oleh trik-trik busuk yang basi dari para lelaki. Sayangnya, kami para perempuan menikmati itu semua, padahal kami tahu itu hanya sampah busuk.

”Dia memang laki-laki yang manis. Lembut. Mampu menaklukkan persendian para wanita dengan tutur katanya yang lembut dan memesona. Dia juga pandai membangkitkan harga diri para wanita, membuat mereka seolah wanita perkasa, kuat, berdaya. Dia sungguh piawai dalam hal itu.” Itu juga aku tahu. Sejak awal memang hal itulah yang mebuatku jatuh cinta padanya. Aku tahu dia berpengalaman, meski dia pernah mengatakan dirinya amatir soal wanita.

”Lalu kenapa Anda tidak membuat langkah-langkah pencegahan agar petualangannya segera berakhir?”

”Dia laki-laki yang mudah hanyut. Ketika dia menemukan lawan bicara yang menyenangkan, dia akan terpikat. Ketika dia menemukan wanita yang gigih berjuang membela sesuatu, dia akan kagum, lalu mencari tahu dan mendekati. Begitulah. Dan saya sangat menyayangkan, Anda seorang wanita terhormat yang menjadi korban suami saya yang nampak begitu tenang dan menyejukkan itu.”

Es krim vanilla dalam mangkuk begitu menggoda untuk dilumat habis. Sambil menjilati sendok es krim aku menyimak kalimat-kalimat perempuan hebat ini tentang suaminya. Ia sungguh-sungguh tahu kelemahan suaminya, kekasih gelapku. Ia berhenti sejenak untuk mencicipi es krim caramel pesanannya. Lalu kembali menatapku.

”Saya tidak datang untuk meminta Anda berhenti berhubungan dengan suami saya, karena itu akan percuma. Saya tahu ketika hubungan kalian dibendung maka kalian akan melompat lebih tinggi. Saya datang untuk mengingatkan Anda bahwa dia bukan laki-laki terhormat, dia bukan laki-laki baik-baik. Banyak perempuan salah menilai dirinya.” Tiba-tiba aku ingin tertawa. Melihat itu dia menelan kembali kalimat yang hendak ditumpahkan berikutnya.

”Silahkan, jika ada yang ingin disampaikan.”

Inilah kesempatanku. Aku perlu waktu sejenak untuk mengatur napas dan merapikan sisa-sisa es krim di sekitar bibirku. Standar operasi yang wajar bagi seorang pembicara tak boleh ada benda asing nangkring di areal wajah.

”Nyonya, jika Anda tahu dia bukan pria terhormat, mengapa Anda masih bertahan menjadi istrinya?”

Dia nampak sedikit tersentak, tetapi dengan segera memulihkan diri.

”Keyakinan kami melarang perceraian.”

”Ohh!! Ya, saya lupa. Baiklah Nyonya, apakah kita akan membahas mengapa bisa terjadi hubungan antara kami berdua?”

Dia lebih tersentak lagi. Urat-urat lehernya nampak menegang.

”Jika Anda membutuhkan klarifikasi, kalau tidak maka pembicaraan kita selesai.”

Nyonya muda yang semula tampak tegar itu kini menunjukkan tanda-tanda kejatuhan. Tetapi dia pasti punya harga diri, maka dia memintaku melanjutkan pembicaraan.

”Nyonya, pihak pertama yang patut dipersalahkan adalah Tuhan…” Perempuan itu tambah tegang. Gambaran itu tercermin jelas dari kerut di dahinya, sorot matanya, gerak bibirnya, dan lehernya yang bergaris-garis kalung usus. Aku tak peduli.

”Saya telanjur percaya bahwa cinta adalah anugerah Tuhan yang paling indah. Saya harus mengakui bahwa saya, lebih tepatnya kami, saling jatuh cinta.” Aku menanti reaksinya. Menatap matanya yang mulai meredup. Tidak ada bantahan, aku melanjutkan.

”Kadang saya berpikir bahwa Tuhan itu aneh. Bukankah Tuhan itu mahakuasa, mengapa dibiarkan dua insan yang seharusnya terlarang ini tertanam benih cinta? Kita semua tahu bahwa cinta itu tidak tumbuh karena rekayasa, tetapi alamiah dan mandiri. Dan, seperti halnya mozaik kehidupan yang lain, segala sesuatu tak akan terjadi tanpa campur tangan Tuhan, tanpa izin Beliau. Kami jatuh cinta seketika pada pandangan pertama, bahkan sebelum saya tahu siapa dia meski saya tahu ada cincin kawin di jari kirinya.”

”Dan Anda tidak berusaha menghindar?”

”Apa yang bisa kita lakukan ketika panah asmara menembus dua hati yang bertemu? Nyonya, saya juga pernah mengalami hal serupa dengan Anda. Ketika suami saya memilih jatuh cinta lagi dan menyemaikannya, maka saya lepaskan dia. Saya percaya bahwa cinta yang benar adalah melepaskan, bukan menggenggam. Dan, itu pasti menyakitkan. Saya sakit dan memelihara rasa sakit itu hingga sembilan tahun lamanya. Sampai akhirnya tiba-tiba saya mendapati diri saya tak mampu berpaling dari suami Anda, Wibi, laki-laki yang telah berpengalaman dengan berbagai jenis perempuan. Laki-laki yang membuat saya rela melakukan apa saja di saat situasi tidak mungkin. Apakah kita bisa menyangkal bahwa itu bukan rasa cinta?”

Perempuan di depanku itu terdiam. Ia tak lagi menatap mataku seperti awal pertemuan tadi. Sekarang ia lebih asyik dengan sendok mungil dan mangkuk es krim.

”Terkadang dalam geram saya pada masa lalu, saya tertawa lepas. Sekarang saya bisa merasakan bagaimana menjadi perempuan kedua dalam kehidupan sebuah pasangan. Tetapi ini bukan aksi balas dendam, sama sekali bukan. Ini hanya sebuah kecelakaan.”

Perempuan bernama Dhanty itu menatapku lagi dengan sisa-sisa harga dirinya. Aku senang, paling tidak kami bisa saling mengukur keberanian masing-masing.

”Seharusnya Anda mengundurkan diri ketika mengetahui bahwa dia laki-laki kotor,” ia bergumam.

”Mungkin di balik kekuatan saya sebagai perempuan, masih tersisa kadar naif yang lumayan besar. Saya melihat bahwa dia juga jatuh cinta pada saya. Meski saya tahu dia juga mencintai Anda, dan dia sangat mencintai anak kalian. Dia laki-laki yang takut kehilangan keluarga.”

”Saya tahu…saya tahu….” Ada serak di antara kata-katanya. Sampai di sini aku merasa yakin bahwa air mata akan segera mengalir dari kedua pelupuk matanya. Wajah kuning langsatnya yang tak tertutup make up membersitkan warna kemerahan pertanda ada emosi dalam hatinya. Aku menatapnya lekat-lekat. Dan, tiba-tiba aku merasa begitu kotor. Serangkaian kalimat yang tadi telah tersusun baik dalam kepalaku, sekarang berubah orientasi.

”Kesadaran itulah yang akhirnya muncul setelah beberapa bulan. Saya akhirnya menyadari bahwa saya tidak mendapat apa pun dari hubungan ini kecuali debar jantung dan kemesraan. Saya hanya diberi waktu beberapa menit setiap hari, itu pun di antara jam-jam istirahat, sementara Anda mendapatkan sepanjang malam, sepanjang akhir pekan. Ketika saya merasa kesepian dan rindu belaian, dia sedang membelai Anda dan bahkan mungkin sedang bercinta. Ketika saya sedang bangkrut, saya harus mencari pinjaman di sana-sini sendiri, dia tak mungkin memberi saya uang karena gajinya milik Anda. Saat saya sakit di rumah sakit, saya tak bisa bermanja-manja dan berharap kehadirannya, karena jam bezuk selalu jam di luar kantor, sementara Anda selalu menghitung waktu berapa lama perjalanan dari kantor ke rumah.

Bayangkan, saat saya ketakutan di malam buta oleh ulah pencuri yang menggasak barang-barang di rumah saya, kepada siapa saya mengadu? Kepada teman-teman kantor, bukan kepadanya, karena saat itu mungkin saja kalian sedang berpelukan hangat di atas kasur yang empuk. Hubungan ini benar-benar tak berguna buat saya. Saya tak bisa setiap saat menelepon, tak bisa bertemu kapan pun sesuai keinginan saya. Saya harus mengikuti peraturannya, menataatinya seperti tak boleh SMS di luar jam kerja dan hari libur, sementara pada jam kerja dia sibuk setengah mati. Saya merasa hubungan ini tidak setimpal. Dan, pada akhirnya saya merasa letih mengikutinya.”

Aku tahu perempuan ini juga merasa lelah. Ia pasti sangat lelah. Setiap saat harus menjaga suaminya, mengobati lukanya sendiri, memadamkan bara api yang setiap saat bisa berkobar. Aku tahu bagaimana rasanya. Dan, luka yang ada di hatinya pasti telah bernanah, menyaksikan suaminya yang tampak lembut dan sopan, berpendidikan dan menjadi panutan di kalangan tertentu, tetapi memiliki sejarah panjang dengan berbagai perempuan. Meski aku yakin dapat mempertahankan laki-laki itu, seleraku telah rusak. Dan, tiba-tiba aku merasa demikian bodoh telah menghabiskan banyak energi, waktu, pikiran, dan uang untuk menyemaikan hubungan itu. (*)


Sby, Nov ’07
Jawa Pos Group, 22 Juni 2008

Posted by:Wina Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *