Blog

Single Tak Perlu Disikapi dengan Kesedihan, 22 Perempuan Ini Justru Merayakannya di Buku ‘Aku Memilih Bahagia’

Single Tak Perlu Disikapi dengan Kesedihan, 22 Perempuan Ini Justru Merayakannya di Buku ‘Aku Memilih Bahagia’

Wanita memang biasa ngrumpi. Tetapi, kali ini mereka mencurahkan isi hati masing-masing dalam bentuk buku yang mengangkat tema ‘Kisah-Kisah Inspiratif Kelajangan Perempuan’.

Sebanyak 22 perempuan dengan beragam latar belakang ini merilis karya yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul ‘Aku Memilih Bahagia’ di V-Junction Ciputra World Surabaya, Kamis (8/11/2018).

Sesuai serinya yaitu Single Fighter Woman, semua tulisan esai ini dihasilkan dari perempuan yang ‘single’. “Tak mudah untuk bisa mengumpulkan karya tulis mereka. Perlu waktu tiga tahun hingga akhirnya terwujud buku seperti ini,” ungkap Wina Bojonegoro dari Padmedia, penerbit buku yang tebalnya 298 halaman tersebut.

Menurut Wina,”Kesulitan utama, tidak seluruh penulis memiliki keterampilan menulis. Jadi harus choaching beberapa kali.”

Kesulitan berikutnya, lanjut Wina, para penulis adalah perempuan sibuk. Mereka dari berbagai profesi, seperti dosen, pengacara, tour guide, visual artist, pengusaha, motivator, psikolog, penyiar radio, akupunkturis, dan travel agent.

Para penulis juga tinggal di berbagai kota bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Sehingga koordinasi dilakukan secara maya, baik WhatsApp maupun email.
“Menariknya seluruh tulisan dalam buku adalah kisah nyata penulis yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain, bahkan orang terdekat sekali pun,” kata Heti Palestina Yunani yang juga turut jadi motivator bagi para wanita tersebut untuk menulis.

Menurut Heti, sebagian besar kisah dalam buku ini tentang kepahitan hidup. Namun yang perlu diserap dari penulis ini adalah ketegaran dan cara memilih jalan untuk menyiasati luka-luka itu sehingga menjadi pelajaran berharga.
“Sisi positif proyek menulis ini adalah healing therapy. Perempuan butuh curhat. Itu wajar. Kali ini kami mengajak para perempuan menulis untuk menyembuhkan diri dari luka-luka dan kepedihannya. Jika mereka berhasil melalui tantangan menulis untuk menyembuhkan diri, selanjutnya mereka akan tersenyum,” katanya.

Heti yang juga bertindak selaku editor dari karya para penulis ini menyatakan, semula ada 67 karya yang dia terima. Tetapi, tulisan itu lalu dikembalikan untuk diperbaiki.

“Dalam prosesnya banyak yang tidak dikembalikan. Antara lain alasannya sudah menikah dan tidak enak jika tulisan itu dibaca oleh suaminya yang sekarang,” ucapnya.

Keberanian untuk menjadi ‘single’ adalah benang merah dari puluhan tulisan di buku tersebut. Keberanian itu pula yang mendorong Syska La Veggie memapar perjalanan pahit biduk rumah tangga yang hanya dikecap selama dua tahun.

Menikah dengan pria yang jadi pecandu memang tidak lah mudah bagi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi STIKOSA-AWS ini. Hari demi hari Syska dilalui dengan banyak derai air mata akibat kekerasan fisik yang dia peroleh dari sang suami.

Hingga puncaknya, perempuan kelahiran Surabaya, 18 Maret 1989 ini memberanikan diri untuk ‘mengultimatum’ sang suami. “Kalau bisa berubah kita akan lanjut, tetapi jika tidak, tak ada jalan lain kecuali pisah,” tegasnya.

Ternyata ketika akhirnya menjadi single parent untuk anak semata wayangnya, kehidupan Syska tak seburuk yang dibayangkan semula. “Saya tetap bisa melanjutkan kuliah, juga tetap menghidupi dan menyekolahkan anakku,” beber wanita yang berprofesi sebagai make up artist ini. dit

sumber : inisurabaya.com