Cerpen

Jejak

Jejak

“Kita gagal.” Perih suara suamiku.

“Kita tidak gagal.” Sergahku berusaha meredam. “Dia berhasil menyelesaikan pendidikan strata dua di Eropa dengan beasiswa. Sekarang ia bekerja sebagai peneliti pada lembaga besar dengan gaji yang bagus. Kita tidak sia-sia mendidiknya.”

Nonsense! Pendidikan tinggi itu bukan piala keberhasilan….“

“Lalu apa indikasi keberhasilan orang tua?”

“Keberhasilan menanamkan rasa nasionalisme!.” Darahku mendidih seketika.

“Jadi anak kita tidak nasionalis?” suaraku naik satu oktaf. “Kurang nasionalis apa anak kita? Dia hafal Pancasila. Punya bendera di lemari yang siap dikibarkan kapan saja. Hafal lagu Indonesia Raya. Malah kita punya seperangkat gamelan yang masih dimainkan. Kita juga menggunakan bahasa Jawa dan bahasa negara dalam perbincangan sehari-hari. Anak-anak kita juga….”

“Bagaimana bisa kamu bilang anakmu itu nasionalis? Mencari nama buat calon anaknya saja impor!”

Darah yang semula sempat mencapai leher, tinggal sedikit lagi mencapai ubun-ubun mendadak melorot. Kusesap sisa teh serai yang hampir dingin di meja teras. Perselisihan ayah dan anak itu selalu membuatku berada pada posisi terjepit.

*

Anak pertama kami diberi nama Palupi Permatasari, dengan harapan ia menjadi teladan, bercahaya bagaikan permata, menerangi dunia dengan keluhuran budinya. Maka ketika Palupi mengandung anak pertama dan hasil USG mengatakan anaknya perempuan,  berminggu-berbulan suamiku menderas nama.

Lalu ditemukannya Maharani Mahisasuramardini. Aku mendelik. Nama kok berat sekali. Orang Jawa kalau kabotan jeneng bisa sakit-sakitan, begitu kataku. Untungnya suami dapat menjelaskan bahwa nama itu adalah gelar Ratu Sima, raja Kalingga yang masyhur. Ia ratu yang adil dan toleran terhadap pemeluk agama lain, juga cantik jelita. Budi pekertinya terkenal luhur, sehingga dihormati kaum jelata, pun disegani oleh golongan elite. Konon ia dicintai seluruh masyarakat kerajaan di pesisir utara pulau Jawa tersebut.

Merasa telah menemukan wangsit nan jitu, suamiku menelepon Palupi dengan gegap di atas rata-rata. “Ini nama yang luar biasa, Ndhuk. Jejak kita sebagai wong Jowo akan terekam dalam nama anakmu. Kelak ketika dia dewasa, orang-orang luar sana akan mengagumi namanya, lantas menanyakan dari mana asal usul nama itu. Jangan lupa, kakeknya yang memberi nama ha ha ha.” Suara suamiku menggelegar, sementara Palupi di seberang telepon terdiam. Sang Ayah melanjutkan dengan lebih bersemangat.…

“Setelah kupikir-pikir, cuma orang Jawa yang tidak punya jejak dalam nama. Coba pikir. Orang Minang punya Chaniago dan sebagainya. Orang Batak punya marga yang begitu banyak. Begitu pula orang Manado, Ambon, Papua. Apalagi Bali, dari nama depan I atau Ni sudah ketahuan itu suku Bali, dan apa jenis kelaminnya. Kita ini orang Jawa punya apa?”

“Ya, Romo…,” Kutangkap suara Palupi mengandung keengganan.

Piye? Bagus kan nama pilihan Romo?”

“Akan tetapi Romo, maaf… kami telah menemukan nama buat bayi kami,” jawab Palupi dari gawai yang dipasang speaker.

Jawaban Palupi itu seketika mencegah suamiku untuk berkata selanjutnya. Raut wajahnya mendadak kaku. Kami saling bertatapan. Aku tahu, ia sangat  kecewa. Bagi kami golongan tua, mencari nama tidak sekadar gagah atau jelita. Ia mengandung harapan, filosofi  dan kekuatan. Lama terdiam, kemudian aku mencoba menengahi dengan menanyakan.

“Lalu siapa nama yang akan kauberikan pada anakmu?”

“Alexa Andromeda…,” jawab Palupi kembali  riang, seakan ia telah menemukan gugusan bintang di langit yang mudah diraih dengan kedua lengannya.

Artine apa?” tanyaku lagi.

“Alexa itu bahasa Yunani, artinya perempuan pembela manusia. Andromeda adalah nama galaksi yang sangat besaaar, jauh lebih besar dari galaksi Bimasakti.”

“Mengapa harus pakai bahasa Yunani? Tidak adakah nama asli Indonesia atau Jawa yang cukup memenuhi kriteria anak perempuan hebat?”

“Mmmm… sudah telanjur, Bu.”

“Telanjur bagaimana? Wong anak belum lahir, kok.”

“Sudah memesan pakaian bayi, keranjang tidur, dan mural kamar tidur dengan nama itu.”

“Kamu kok lancang to, Ndhuk?” suamiku menyela. “Kowe aja ndhisiki kerasing Gusti Allah. Sebaiknya kamu jangan membeli baju atau apa pun perlatan bayi sebelum anak itu berumur tujuh  bulan,  yang ditandai dengan tingkeban.”

Hening….

“Kalau semua anak muda Jawa ini tidak punya rasa bangga melestarikan nama leluhurnya, jejaknya akan musnah. Kamu tahu mengapa aksara ha na ca ra ka itu nyaris lenyap? Karena anak muda tidak ngajeni karya leluhurnya yang luar biasa. Tidak ada yang melestarikan. Nama saja harus impor! Semua benda-benda impor, budaya juga impor! Kalian ini seperti tak punya leluhur, tak punya jati diri. Mestinya kalian malu sama orang Jepang. Mereka maju. Modern. Akan tetapi, perilakunya tetap Jepang. Budaya mereka abadi. Huruf Kanji tetap dipakai sampai sekarang. Nama mereka pun tetap Jepang. Tidak ada nama yang menyamai mereka. Identitasnya jelas, Jepang. Kamu apa? Jawa? Indonesia?”

Sejak itu, suamiku tak mau bicara lagi pada anak perempuan yang dulu sangat dipujanya. Ia lupa bahwa Palupi dulu selalu dibicarakan sebagai anak cerdas yang hebat. Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa anak adalah hak orang tuanya. Kita sebagai calon kakek dan nenek tak boleh turut campur. Namun, ia selalu murka ketika aku membahas soal itu.

Berminggu-minggu kemudian Palupi menelepon….

“Ibu, kami sudah memutuskan. Nama anak kami adalah Alexa Maharani.”

Suaranya sedikit takut. Meskipun lega, aku masih punya ganjalan dengan nama Yunani itu.

“Ibu lupa, ya?  Nama suami Palupi kan Alex. Jadi kami beri Alexa supaya ada seperti marga dari bapaknya.”

“Kalau begitu dibalik, Maharani Alexa, tambahkan Putri.”

“Harus pakai Putri?”

“Biar terlihat Indonesia.”

Ia mengalah akhirnya. Perseteruan berakhir dan dilanjutkan dengan upacara tingkeban. Ketika kandungan Palupi berusia tujuh bulan, secara medis bayi itu sudah kuat, jika pun dia lahir lebih cepat, tak bisa dikatakan prematur. Upacara ini kami lakukan sebagai upaya melestarikan budaya Jawa yang mengalir deras di darah kami, mengumpulkan sanak saudara sebagai silaturahmi, pun tetangga dan sahabat para pensiunan. Kebahagiaan bagaikan gugusan awan saat November.

Namun, perselisihan belum benar-benar usai. Perang dingin antara suamiku dan anaknya, Palupi, bukan saja pada soal nama. Ketika kami menengok Maharani yang baru lahir di Jakarta, suamiku sangat kaget dan nyaris marah pada Palupi yang sedang melakukan inisiasi menyusui bayinya.

“Kamu itu orang Jawa, Ndhuk. Mengapa harus memakai panggilan mommy dan daddy?!”

“Kami tinggal di metropolitan, Romo.”

“Jadi orang Jakarta semua memanggil orang tuanya dengan mommy and daddy?  Tak ada lagi yang memanggil ayah-bunda atau bapak-ibu? Kasihan sekali kalian.”

Kemasygulan suamiku berakibat makan siang terasa hambar. Dalam hal ini aku satu pendapat dengan suamiku. Soal nama, panggilan dan bahasa, sebaiknya memakai milik leluhur saja. Jalan ini menurut kami adalah cara melestarikan jejak sebuah bangsa.

“Apakah sekolah luar negeri membuatmu malu menggunakan panggilan bapak-ibu buat anakmu? Kurang keren kalau tidak memakai istilah luar negeri?” tanya suamiku telak, membuat Palupi merasa jatuh harga dirinya.

“Kamu tidak dididik dan dibesarkan untuk menjadi orang asing di negerimu sendiri. Jika kamu malu menggunakan atribut negaramu, lalu siapa yang akan menjaga jejak leluhur bangsa ini?”

***

Suamiku sedang memainkan gender di ruang pendopo atau joglo yang berbaris manis dengan pohon mangga lalijiwo di sebelah kanan. Gending Lalermengeng yang dimainkannya diimbangi rebab oleh Kang Saemo. Duet mereka sangat menyayat dan  menikam sore yang seharusnya indah oleh kabar gembira dari Jakarta. Aku menunggu hingga mereka jeda.

“Diajeng. Ada sesuatu? Wajahmu terlihat sedang menunggu.” Suamiku menghentikan permainan gendernya, menatapku dengan wajah serius. Lelaki peka yang menghafal bahasa tubuhku dengan baik.

“Kita akan kedatangan tamu,”  kataku.

Ia menyambut dengan tersenyum. Jika demikian ia terlihat seperti usia dua puluh lima, seperti ketika aku menatapnya di pelaminan.

Maharani sudah berusia delapan tahun. Duduk di kelas dua SD dan tumbuh cepat. Dua hari lagi ia akan berlibur bersama beberapa teman sekelasnya. Mereka akan menari bersama kelompoknya untuk ditonton penduduk dusun.

“Kang Saemo, kita siapkan teman-teman untuk mengiringi cucuku menari, ya.”

“Tari apa ini, Pak Besar? Srimpi? Bondan? Gambyong? Atau Remo?”

“Kalau anak-anak biasanya Tari Kukila atau Tari Topeng. Bisa-bisa malah tari kreasi baru,” jawab suamiku sembari tersenyum bangga.

Siang itu  dunia seperti lebaran mendadak, yaitu ketika Maharani tiba bersama beberapa teman sekolahnya. Sesuai rencana, malam hari penduduk berkumpul. Para penabuh gamelan bersiaga di lokasi instrumen masing-masing. Kopi dan pala pendem mengalir, penduduk menikmati sambil lesehan di atas tikar. Lalu muncullah Maharani dan kawan-kawannya dari dalam rumah. Mereka merias wajahnya dengan kemilau.

Tatapanku tiba-tiba tersangkut pada satu hal, pakaian yang dikenakan Maharani dan teman-temannya. Bukan pakaian tari Jawa dengan kemben dan kain jarik panjang seperti bayangan kami. Mereka mengenakan baju robek-robek dan rambut dikucir tinggi. Aku dan suamiku saling menatap. Para penabuh gamelan membeku menanti kejadian selanjutnya. Tiba-tiba Maharani memasang sesuatu pada sound system, katanya itu bernama bluetooth. Menyeruaklah suara dari sound system itu, konon musik Korea dan disebut K-pop. Cucuku menari meliuk-liuk patah-patah. Suamiku menatap Maharani, dengan wajah masam. Sementara Maharani menari dengan riang bersama tiga orang lagi dan turut pula menyanyi….

Let’s kill this love!

Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah

Rum, pum, pum, pum, pum, pum, pum

Let’s kill this love!

Rum, pum, pum, pum, pum, pum, pum

*

Dunia memang telah menggelincir jauh meninggalkan kami. Jurang yang menganga di antara generasi dulu dan kini telah melebar demikian jauh. Suamiku tidak tersenyum malam itu. Begitu pula pagi hari, dan hari-hari selanjutnya. Kami lebih banyak duduk di  joglo memandang pohon mangga lalijiwo sambil ngopi. Meskipun begitu aku tahu, isi kepala kami sama. Gamelan kami, apakah tetap akan dimainkan jika kami, para tetua ini telah tiada?

(*)

Wina Bojonegoro

Omah Padma, September 2019